Processing kamplang Crackers by Addition of Green Spinach Leaft Extract
DOI:
https://doi.org/10.52046/agrikan.v15i2.1256Keywords:
kerupuk, kamplang, bayam hijauAbstract
In general, crackers are consumed as an additional food for side dishes or as a snack. One of the main factors that determine the quality of crackers is the crispness. Spinach is often used as a product, apparently. This research method uses a completely randomized design (CRD) with one factor consisting of 5 treatments and 3 replications in order to obtain 15 experimental units. The treatments consisted of 5 treatments, namely (P0), the addition of 0 ml of spinach leaf extract, (P1), the addition of 50 ml of green spinach leaf extract, (P2), the addition of 100 ml of green spinach leaf extract, (P3), the addition of green spinach leaf extract. 150 ml, and (P4), 200 ml green spinach leaf extract. Parameters observed included physicochemical and organoleptic characteristics, namely water content, covering 8.49-10.49 ash ranging from 2.26-2.52, protein ranging from 9.19-9.59, fat ranging from 0.28-0.65%. and carbohydrates in the range of 78.35-79.21%, the physical properties of swellability ranged from 1.97 to 2.38. Organoleptic namely color ranged from 4.17-4.87, taste ranged from 3.91-4.79, aroma ranged from 4.32-4.56, and texture ranged from 4.17-4.87. When viewed from all treatments ranging from chemical, physical, and organoleptic properties, it turns out that the best value in the P2 treatment is in accordance with the determination of the best ranking value, which is the smallest.
References
BPS, 2012. Statistik Indonesia. Biro Pusat Statistik. Jakarta. www.bps.go.id. Diakses tanggal 2 November, 2020.
Buckle, K., A., et al., 1985. Ilmu Pangan. Terjemahan oleh. Purnomo dan Abdiono. Universitas Indonesia. Jakarta.
Deni et al., 2013. Pemanfaatan Daging Ikan Tuna Sebagai Kerupuk kamplangg dan Karakterisasi Produk YangDihasilkan. Jurnal Ilmiah Agribisnis dan Perikanan. UMMU Ternate, email:ikun.deni@gmail.com. Volume 6 Edisi 2.
DeMan, J. M. (1997). Kimia Makanan Edisi Kedua (Terjemahan). ITB. Bandung.
Djumali Z, et al., 1982. Tekonologi Kerupuk. Buku Petugas Lapang Penyebarluasan Teknologi Sistem Padat Karya. Institut pertanian Bogor. Bogor.
Dwi Kristiastuti, M.Pd Pengaruh Subtitusi mocaf (Modified Cassava Flour) dan penambahan jus daun bayam (Amaranthus spp) Terhadap sifat organoleptik kue gapit. e-journal Boga, Volume 5, No. 1, Edisi Yudisium Periode Februari, 2017.
Djaafar, T.F., S. Rahayu, dan R. Mudjisihono. 2000. Teknologi Pengolahan Sagu. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 35 hal.
Grubben GJH. 1994. Amaranthus L. In: Plan Resources of South East Asia. Siemonsma, J.S and K.Piluek (Eds). Prosea. Bogor, 82-86.
Hari Eko Irianto dan Teuku Muamar Indra Akbarsyah.Pengalengan Vol. 2 No. 2, Desember 2007.
Assagaf, et al., 2013. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku Utara Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian. http: // malut. litbang pertanian. go. id/ images/ stories/ Buku- sagu- Malut publi/sh.pdf. Diakses 14-01 2021.
Kusharto CM. 2006. Serat Makanan dan Peranannya Bagi Kesehatan. Jurnal Gizi dan Pangan 1 (2), 45-54.
[KKP] Kementerian Perikanan dan Kelautan 2009. Data Potensi Eksport/Import Kelautan dan Perikanan 2007. Jakarta: KKP. http:// statistik.dkp.go.id/ download/buku02.pdf. (10 Mei 2010).
[KKP] Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2009. Kelautan dan Perikanan dalam angka 2009. Jakarta: KKP. http://statistik.dkp.go.id/down load/ kpda09.pdf. (10 Mei 2010).
Mila, lestari, dan widyaningrum (2014). Pengaruh Puree Bit (Betavulgaris) Terhadap Sifat Organoleptik Kerupuk. Boga, Volume 03, Nomer 1, Edisi Yudisium Periode Februari Tahun 2014, hal. 233-238.
Muliawan, D. 1991. Pengaruh berbagai Tingkat Kadar Air terhadap Pengembangan Kerupuk Sagu Goreng.Skripsi.JurusanTeknologi Pangan dan Gizi. Fakultas Teknologi Pertanian IPB. Bogor.
Wahyono, Rudy dan Marzuki. 2006. Pembuatan Aneka Kerupuk. Jakarta: Penebar Swardana.
Puspa, 2019. Analisis mutu fisik nugget dengan variasi formula tempedan bayam hijau.Https://www.google.co. id/search?q=SKIPSI Mestika, Puspa, Sari, Taringan. PDF &oq= Diakses tanggal 27 bulan 10 2020.
Winarno, F,G. 1984. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT Gamedia Pustaka Utama.
Winarno, 1992. Kimia Pangan dan Gizi.Cetakan Keenam, Jakarta: Gamedia. Pustaka Utama.
Wahyuni, 2018. Mempelajari karakteristik pengeringan bayam hijau (Amaranthus tricolor L)
Qalsum et al., 2015. Analisis kadar karbohidrat, Lemak dan protein dari tepung biji mangga ( Mangifera indica L) Jenis gadung. Volume 4 No. 4, 2015: 168-174.
Rukmana, Rahmat. 2008. Bayam, Bertanam dan Pengelolaan Pascapanen. Yogyakarta: Kanisius.Romantika, Tresia Umarianti 2017. Uji laboratorium pengukuran kandungan zat besi (Fe) pada ekstrak bayam hijau (Amarathus Hybridus l), Email:t27a.umarianti@gmail. com. Maternal vol. II NO. 2 Otober 2017.
Rosiani et al., 2015. Kajian karakteristik sensoris fisik dan kimia kerupuk fortifikasi daging lidah buaya (Aloe vera) Dengan metode pemanggangan menggunakan microwave. Jurnal teknologi hasil pertanian, Vol. VIII, No 2, Agustus 2015.
Ruaida 2020. Analisa Zat Besi dan Daya Terima Pada Nuget IkanTongkolDenganSubtitusi Bayam. Volume 5 Number 1 Maret 2020.
Sandjaja dan Atmarita, 2009, Kamus Gizi Pelengkap Kesehatan Keluarga, Kompas Gramedia, Jakarta.
Sediaoetama, A. D. 1996. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi. Jilid I. Dian Rakyat, Jakarta.
Suherman, Trisnaningtyas. 2016. Analisis Energi dan Eksergi pada Pengeringan Tepung Tapioka Menggunakan Pengering Kontinu Unggun Fluidisasi Getar. Jurnal Reaktor, Vol. 16 No. 1, Hal. 24-31.
Sutrisno Koswara, MSi. Pengolahan aneka kerupuk. Ebook pangan.com 2009. wwTekpan.unimus.ac.id. Diakses tanggal 1 November, 2020.
Suprapti, Lies M. 2005. Tepung Tapioka. Yogyakarta: Kanisius.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
Citation Check
License
Copyright (c) 2022 Mustamin A. Masuku, Syamsul Bahri, La Arjun La Rahman

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.







